Cerpen
Setiap sore, suara lonceng bambu bergema di tengah sawah Desa Sidomulyo. Lonceng itu digantung di sebuah pondok kecil dan dibuat oleh Pak Ranu, seorang petani tua. Suara lonceng itu memberi tanda waktu bagi semua petani untuk berhenti bekerja dan berdoa bersama.
“Kenapa harus lonceng, Pak? Kan sekarang ada jam tangan,” tanya Danu, cucunya.
Pak Ranu tersenyum. “Lonceng ini bukan sekadar penanda waktu. Ini cara kita menghormati alam dan sesama.”
Suatu hari, hujan besar turun dan banyak orang terjebak di sawah. Lonceng bambu dibunyikan terus-menerus sebagai tanda bahaya. Para warga bergegas menolong. Semua orang selamat.
Sejak saat itu, Danu menyadari betapa pentingnya lonceng bambu itu. Ia pun belajar membuatnya sendiri agar tradisi itu tidak hilang ditelan zaman.
Di sebuah desa kecil di kaki Gunung Lawu, hiduplah seorang kakek bernama Mbah Wiryo. Ia satu-satunya pengrajin payung bambu yang tersisa di desanya. Setiap pagi, ia duduk di serambi rumah panggung sambil menganyam bambu dengan sabar.
“Sekarang orang-orang lebih suka payung plastik, Mbah. Siapa yang mau beli payung bambu?” tanya cucunya, Sari.
Mbah Wiryo tersenyum. “Nak, payung bambu bukan sekadar alat peneduh hujan. Ini warisan leluhur kita.”
Ketika desa mereka mengadakan Festival Budaya Nusantara, Mbah Wiryo ikut memamerkan hasil karyanya. Payung-payung bambu dengan ukiran halus menarik perhatian banyak pengunjung. Seorang pengusaha bahkan membeli beberapa untuk dekorasi penginapan tradisional.
Sari akhirnya mengerti. “Mbah, payung bambu ini luar biasa.”
Mbah Wiryo tersenyum bahagia. “Selama kita menjaga tradisi, ia takkan pernah hilang.”
Komentar
Posting Komentar